07.00 WIB
Terbangun dari tidur akibat suara deru mesin dan knalpot, padahal mata ini baru saja terpejam 2 jam setelah melakukan perjalanan kurang lebih 12 jam, pertarungan sengit Bekasi - Salatiga. Rasanya masih ingin bergerumul dengan alas tidur matras dalam tenda TNI ini. Udara dingin semakin menusuk, jaket beserta rompi masih belum bisa membendung, akhirnya saya putuskan untuk beranjak keluar dari tenda.
Sembari menyadarkan mata dan badan ini, segelas kopi segera dijamah bersama rekan-rekan, sekedar menghangatkan diri dan bercanda. "Kenapa dingin ini masih saja menghampiri, disana matahari sudah menampakan diri" gumam ku. Ketika aku menoleh ke arah barat, terpampanglah jawabannya. Ternyata kami semua berada di kaki Gunung Merbabu. Pantas saja 'ademe ora umum'.
Panasnya kopi dan gorengan tidak mampu bertahan lama, kabut masih saja tidak beranjak, bahkan ketika berucap saja hampir sama seperti 'merokok'. Beberapa rekan memilih memanaskan tunggangannya, ada pula yang memilih kembali ke tenda. Perbincangan pun kami sudahi, saatnya bergerak menuju sekretariat VOCS Salatiga.
09.15 WIB
Hanya membutuhkan perjalanan 10 menit sudah tiba dilokasi. Ternyata beberapa rekan sudah ada yang mendahului kami, cukup ramai bahkan. Kopi, gorengan dan rokok selalu setia menemani, canda dan tawa menghiasi pagi ini. Ternyata banyak wajah baru di dunia Vario ini, dampak istirahat 1,5 tahun tidak bisa dipungkiri. Sekedar menyapa dan memperkenalkan diri, karena pada saat saya tiba di lokasi KopDarGab banyak yang istirahat.
Cukup ramai untuk acara sekelas lokal ini, dihadiri oleh seluruh member VJAY (Vario JaTeng dan Yogyakarta) dan belum termasuk diluar dari VJAY (VACTA Tangerang, VOC Tangerang, VIKSI Bekasi, VARICK Karawang, BAVAS Banjar dan HVRC Bandung), dengan estimasi 100 s.d 120 motor vario yang hadir.
Teringat akan janji dengan salah satu rekan asal Magelang, MAVIA. Janji untuk mampir kediamannya sepulang dari event ini. Baiklah, buka perbincangan dengan rekan-rekan yang lain namun diputuskan harus berpisah di kota kecil ini. Prepare muatan pun dilakukan bersamaan dengan yang lain.
10.30 WIB
Engine on menuju Magelang. Pemberhentian pertama pada 'hotel Pertamina', saatnya melakukan pengisian bahan bakar setelah itu berpamitan karena harus memisahkan diri ditengah perjalanan. Bermesraan dengan putih pun dimulai, berpisah disalah satu persimpangan, rekan-rekan menuju Semarang, saya belok menuju Magelang via Kopeng.
Jalur yang saya lalui merupakan jalur alternatif menuju Magelang, menyusuri lereng Gunung Merbabu namun nampak pula Gunung Merapi. Jalur menanjak atau menurun, tikungan 'u turn' dan bahkan lebar jalan yang 'ngepas' 2 mobil membuat adrenalin semakin terasa. Sesekali melakukan 'cornering' hingga knee protector ini bercumbu dengan aspal, hhee. Memacu hingga 80 KM/H pun masih mampu untuk melibas trek sempit nan berkelok ini.
Ditampilkannya hamparan hutan hingga gunung yang mencuat ke langit. Ditemani oleh putih buluk nan semok (maklum full box, hhe..), "Inilah saatnya aku bermesraan dengan mu putih" ucapku. Kondisi aspal yang mumpuni, jarang terluka, putih yang siap digenjot RPM tinggi dan pemandangan yang superrr serta hawa dingin yang menyegarkan membuat sempurna suasana.
Teringat akan janji dengan salah satu rekan asal Magelang, MAVIA. Janji untuk mampir kediamannya sepulang dari event ini. Baiklah, buka perbincangan dengan rekan-rekan yang lain namun diputuskan harus berpisah di kota kecil ini. Prepare muatan pun dilakukan bersamaan dengan yang lain.
10.30 WIB
Engine on menuju Magelang. Pemberhentian pertama pada 'hotel Pertamina', saatnya melakukan pengisian bahan bakar setelah itu berpamitan karena harus memisahkan diri ditengah perjalanan. Bermesraan dengan putih pun dimulai, berpisah disalah satu persimpangan, rekan-rekan menuju Semarang, saya belok menuju Magelang via Kopeng.
Jalur yang saya lalui merupakan jalur alternatif menuju Magelang, menyusuri lereng Gunung Merbabu namun nampak pula Gunung Merapi. Jalur menanjak atau menurun, tikungan 'u turn' dan bahkan lebar jalan yang 'ngepas' 2 mobil membuat adrenalin semakin terasa. Sesekali melakukan 'cornering' hingga knee protector ini bercumbu dengan aspal, hhee. Memacu hingga 80 KM/H pun masih mampu untuk melibas trek sempit nan berkelok ini.
Ditampilkannya hamparan hutan hingga gunung yang mencuat ke langit. Ditemani oleh putih buluk nan semok (maklum full box, hhe..), "Inilah saatnya aku bermesraan dengan mu putih" ucapku. Kondisi aspal yang mumpuni, jarang terluka, putih yang siap digenjot RPM tinggi dan pemandangan yang superrr serta hawa dingin yang menyegarkan membuat sempurna suasana.
Membuat lelah atau kantuk akibat perjalanan semalam hilang seketika. Matahari sudah hampir berada tepat diatas namun hawa dingin ini masih saja menyelimuti. Rasanya tidak ingin berlalu dengan cepat jika melintas jalan ini. Kurang lebih 40 menit melintas dijalan ini hingga akhirnya bertemu persimpangan dekat Terminal Magelang, menyalakan sein kiri pertanda akan melakukan manuver (manuver jidat luu, hhaa..).
11.50 WIB
Akhirnya tiba di kota Magelang, tiba pula disalah satu kediaman MAVIA Magelang, Didit. Berbincang dan bercanda sejenak tak lupa melaksanakan ritual siang hari (makan, hhee..). Namun apa daya, mata ini rasanya ingin menutup sejenak, (maaf ya Dit, abis makan ngantuk nih, hhaa..) zzzzzz.
Terbangun dari nyenyaknya tidur, melihat jam ternyata sudah menunjukan pukul 16.50 WIB, saatnya membersihkan diri. Tak lama setelah mandi dan mengganti pakaian tiba rekan dari DJAVOE Jogjakarta, Nouva. Melepas rasa kangen dengan berbincang dan bersenda gurau, sedikit bernostalgia antara kami bertiga, sudah lama rasanya tidak bertemu.
18.40 WIB
Waktu berjalan begitu cepat, segera ku lakukan persiapan terakhir, membereskan barang-barang bawaan serta menggunakan safety gear pertanda sudah saatnya ku meninggalkan kota Magelang. Berpamitan dengan Didit dan Nouva, semoga dapat bertemu dilain kesempatan. Engine on menuju Tangerang.
Kemesraan ku dengan putih berlanjut lagi, kali ini saya memilih jalur Temanggung - Weleri. Melakukan pengisian bahan bakar sebelum masuk kota Temanggung. Aspal halus, minim penerangan dan frekuensi pengguna jalan sedikit membuat dapur pacu digeber total, tak tanggung-tanggung 110 KM/H bisa tersentuh oleh si putiih buluk nan semok ini.
Tak terasa kota Temanggung sudah terlewati, saatnya bertarung dengan gelapnya perbuktian Weleri. Sangat minim penerangan, pemukiman warga pun sangat jarang, aspal tambal sulam dan jalan berkelok serta naik turun membuat kemesraan ini menjadi berwarna. Ternyata putih masih mampu memberikan kenyamanan dalam berkendara berkat peredaman dan aselerasi yang pas. Entah berapa banyak lubang yang saya 'hantam'. Cukup banyak 'u turn' yang dilalui. Namun sayang, kondisi karpet hitam tidak mumpuni.
40 menit saya berjibaku di Weleri, akhirnya bertemu dengan Pantura. Aksi geber mesin pun dilakukan dan tempel bokong bis AKAP menjadi santapan malam ini. Hingga pada akhirnya bertemu rekan-rekan asal AVP Pekalongan menjelang tanjakan Alas Roban. Menyelaraskan barisan hingga menjadi 1 menjadi atraksi pembuka, tak lupa 'kode kaki' menjadi tumpuan menghindari lubang dan aspal tidak rata.
Akhirnya menepi kan kendaraan untuk mampir di SPBU sebelum masuk kota Batang. Terlihat PO Haryanto sedang mengalami trouble, sedikit menyapa 'klakson' dan disapa balik oleh crew. Berbincang dengan rekan AVP setelah mengisi bahan bakar dan mengajak saya untuk sejenak mampir menikmati Pekalongan dimalam hari, why not??
21.00 WIB
Tiba di alun-alun kota Pekalongan, sejenak meluruskan kaki dan meregangkan otot. Ditawarkannya makanan khas Pekalongan 'Nasi Megono' oleh rekan-rekan. Satu bungkus nasi megono beserta lauk pauk yang tersedia ku lahap sembari berbincang-bincang. Teh manis hangat menjadi pilihan untuk melancarkan tenggorokan ini.
"Mas, nek arek VACTA ning dalan ora iso alon opo yo? Ket biyen bareng arek VACTA mesti banter-banter.." ucap salah satu member AVP, "Jarene rak banter rak silir? Iki ketemu tim GPRS lho" balas ku. "Opo kui GPRS?", "Gas poll rem sitik, hhhaaa..", "Hahahahahahaha.."
Suasana malam di kota ini tidak bisa ku nikmati lebih lama, saatnya melanjutkan perjalanan pulang, berpamitan dan mengucapkan terima kasih atas suguhannya. Semoga lain waktu bisa stay di kota Pekalongan. "Oke putih, jangan sampai kemesraan kita terlupakan".
Sepanjang jalan didominasi oleh bis AKAP dan truk-truk, mobil pribadi sangat minim. Kondisi aspal cukup mumpuni, tali gas tidak mengendur sama sekali, sein terus dimainkan sebagai tanda pindah jalur atau berbelok dan lampu hi/lo menjadi isyarat ketika overtake.
01.00 WIB
Tiba di kota udang, Cirebon. Setelah sebelumnya sempat mampir di Brebes untuk membeli telor asin, hhee. Tak terasa sudah melewati Jawa Tengah, hingga menjelang terminal Cirebon 'diportal' oleh salah satu rekan asal kota udang ini, bukan Vario melainkan Revo (brotherhood without limit). Diajaknya untuk sejenak mampir sekedar ngopi dan berbincang-bincang.
Makan, ngopi, bercanda menjadi menu ditengah malam ini bersama dulur-dulur Revo Cirebon dan LEGASUS Cirebon. Bahkan portal kedua ini memakan waktu yang lama, sempat aksi 'culik' hampir terjadi, namun setelah dijelaskan kenapa saya tidak bisa menuruti, akhirnya mereka melepaskan saya juga, hhee (maaf lur, next time saya balik lagi..)
Kurang lebih 2 jam saya tertahan di Cirebon. Saatnya mengganti waktu yang terbuang, harus bisa masuk Bekasi dan Jakarta pagi hari. Tak peduli lagi dengan angka yang terpampang pada spedometer, yang saya lakukan hanyalah tidak mengendorkan tali gas, sesekali melakukan pengereman. Pada akhirnya mata ini sudah mulai lelah, segera ku pilih 'hotel Pertamina' untuk beristirahat sejenak dan melakukan kewajiban Subuh, karena langit sudah mulai membiru.
Lebih segar dari sebelumnya, dan perjalanan pun saya lanjutkan kembali. Purwakarta - Cikampek - Karawang - Cikarang cukup padat dengan hadirnya para pekerja, hingga akhirnya mata ini tidak dapat bekerja sama lagi. Ku parkirkan pada salah satu minimarket sebelum masuk Bekasi Timur.
07.00 WIB
Begitulah jarum jam yang ditunjukan oleh arlojiku. Sebotol minuman asam dan air putih menjadi 'doping'. "Ayo putih, perjalanan kita sedikit lagi" gumamku. Meter demi meter ku lalui bersama si putih buluk. Lalu lintas kali ini lebih lancar dari yang ku perkirakan. 1,5 jam akhirnya ku tiba di rumah, Tangerang. Hawa sejuk langsung terasa di perumahan ini.
Alhamdulillah saya diberi kesempatan menikmati Indonesia melalui perjalanan darat. Putih tidak 'rewel' selama perjalanan bahkan dia selalu minta di'genjot' dengan RPM tinggi. Kemesraan ratusan kilometer yang tiada duanya. Perjalanan masih belum berakhir, masih banyak list yang belum kita lakukan, semoga masih ada kesempatan itu. Aamiin.




Mantaap!
BalasHapusKeep Absolute Brotherhood buat anak Tangerang hehee :D
# Pinky
Siappp!!!!
HapusKapan mau join??