Selasa, 26 November 2013

Tiga 'Manula' Main Ke Bandung

Berawal dari kesepakatan forum ShareCom, forum yang mengayomi ex Audit atau Departemen lain untuk tetap berkomunikasi, sharing bahkan 'ngumpul bareng' dan tidak jauh dari arisan bahwa akan ada pertemuan berikutnya pada tanggal 18 s.d 20 Oktober 2013 di Cipaku, Bandung. Janji temu dengan para 'manula' (manusia lupa usia, hhee), termasuk saya bahwa kita akan berangkat Jum'at malam untuk take off ke Bandung.

19 Okt 2013, 01.30 WIB

Jeng..jeng..jengggg..Take off pun dilakukan dari Depok, Bismillah. Pemberhentian terakhir adalah rumah Widhi, jejaka 27 tahun dengan hobi travelling dan gowes (promosi, hhaa..). Berangkat dini hari bukan menjadi option, maklum sebelumnya saya dan Puji ada pertandingan futsal dan harus mengantar Nyonya masing-masing ke rumahnya.

Menyusuri Jl Juanda menuju tol Depok - Jagorawi agar lebih dekat dan cepat ketimbang harus mengarah ke Lenteng Agung. Bahkan cukup dekat, hanya membutuhkan waktu 10 menit sudah berada di gerbang tol. Tidak ada atraksi malam ini, hanya menikmati perjalanan malam. Jangan harap ada bis malam yang masih 'goyang kiri kanan', mayoritas truk gandeng, kontainer dan ekspedisi.

Selang beberapa menit setelah tol Jagorawi - JORR - Cikunir, saatnya melakukan pengisian bahan bakar di rest area, sekaligus belanja keperluan 'manula' ini dan tak lupa mengosongkan air dalam tubuh. Pertarungan menuju tol Cipularang pun dimulai, dimulai dengan curhatan para 'manula' ini, hhhaa. Curhat dari masalah A hingga Z yang membuat mata tetap terjaga, bahkan senda gurau pun tidak bisa lepas.

Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, tol didominasi oleh truk-truk yang mengarah ke timur, lajur kanan yang saya ambil selepas SPBU rest area pun sedikit tersendat dikarenakan truk mencoba overtake. Lepas dari antrian lajur kanan, 1300cc ini pun saya 'panteng' di 100 KM/H, "kecepatan santai saja lah" ucap dalam hati.

Kenapa 'manula' (manusia lupa usia)? Sebenarnya ini hanya istilah dari saya saja, bukan maksud mencontek dari kartunis Mice, hheee (piss bro!!). Sein kiri pun dinyalakan, pertanda saatnya mengarah ke tol Cipularang. Cukup banyak kendaraan yang 'loyo' pada saat menanjak, tidak hanya truk, mobil pun terjebak akan tanjakan itu. Bahkan yang lebih ekstrim adalah ketika truk melakukan overtake, alamak antriannya.

03.10 WIB

Tak terasa ternyata sudah keluar dari pertarungan tol, sekian puluh ribu ditebus untuk bisa keluar dari tol ini. Berselang beberapa meter dari gerbang tol terpaksa harus menepikan 1300cc, kandung kemih sudah tidak dapat menahan tampungan air (maap bro, pipis dulu). Oke, lanjut mengarah ke The Cipaku Garden Hotel via Jl Sukajadi - Setiabudi. Sepinya Bandung jika jam menunjukan waktu Subuh, cerita horor pun menjadi bahan pembicaraan.

Lirik kanan lirik kiri sembari mencari petunjuk dimana letak hotel yang kami huni nantinya, 'kebablasan' hampir menuju Lembang, putar balik. Ternyata jalan yang dimaksud tidak jauh dari kampus UPI. Tak lama akhirnya tiba di hotel yang dimaksud. Sekilas terlihat seperti cottage, jauh dari persepsi hotel dengan gedung bertingkat. Butuh waktu lama untuk menghubungi rekan-rekan yang sudah tiba siang hari tadi. 20 menit kemudian terbukalah pintu kamar yang dituju.

Berselang 10 menit dari adzan Subuh, akhirnya bisa masuk kamar untuk menghangatkan diri, maklum diluar dinginnya sedikit 'ngawur' setelah diguyur hujan ditambah waktu menunjukkan belum saatnya matahari bersinar, bahkan jauh dari waktu untuk bersinar. Kewajiban Subuh selesai dilakukan, berbincang sedikit dan menonton tv sejenak, akhirnya mata ini lebih memilih terpejam, zzzzzz.

07.00 WIB

Kurang lebih itu adalah waktu yang saya ingat ketika mata ini mulai terbuka, menyadarkan diri sembari menyapa rekan-rekan yang sudah tiba lebih dahulu. Saatnya mengisi perut, ternyata keren juga hotelnya, pengunjung tidak begitu banyak padahal ini weekend. 'Comot' sana sini makanan yang tersaji dan memilih tempat duduk berdekatan dengan yang lain. Menyantap sarapan sembari berbincang dengan sesepuh, BS (hhee..).

Membersihkan badan setelah sarapan, setelah itu dilanjut dengan pembagian doorprice. Alhamdulillah, rezeki anak kost tidak akan kemana-mana, doorprice paling besar, 190rb bisa dikantongi, hhhaaa. Tak lama, dari hasil diskusi sebelumnya, kita semua akan meluncur untuk makan siang bersamaan dengan berpisahnya Mas Radit dan Istri serta Wadih, dikarenakan ada acara esok harinya.



11.30 WIB

Saatnya berburu kuliner, sudah menjelang jam makan siang. Kali ini atas info Widhi, kami akan menuju Lisung, Jl Dago Pakar. Jika sudah weekend jangan harap perjalanan lancar jaya, hampir sama seperti Jakarta saat ini, weekdays atau weekend selalu macet, tidak ada yang membedakan. Selamat bermacet ria, hheee.

40 menit perjalanan akhirnya tiba juga ditempat tujuan. Sebelumnya sudah pernah kesini tapi itu ditahun 2009 bersama Panda (Yuyut), lama juga tidak main ke Bandung, ternyata sudah 4 tahun. Pesan makan dan minum dan tak lama sang juru foto bermain dengan kameranya. Obrolan dengan rekan-rekan pun tetap berlanjut.












Tak lama berselang, santapan siang pun tiba. Tempat yang menenangkan, jauh dari kebisingan, udara yang cukup bersih, harga yang masih terjangkau dan bangunan yang unik. Untuk pemandangan sangat disayangkan, sudah banyak bangunan baru berdiri.

14.00 WIB

Saatnya beranjak dari Lisung untuk menuju Jl Riau.Mencari buah tangan sekaligus menjadi tempat perpisahan dengan Mas Radit dan Wadih. Bandung sudah banyak berubah, semakin padat dan agak didominasi oleh plat B pada saat weekend. Perjalanan tidak lebih 20 Km pun harus dibayar dengan waktu hampir 1 jam.

Tiba disalah satu factory outlet, saatnya mengatraksikan mobil Mas Nanang untuk berbelanja. Hampir 1,5 jam berlalu dilokasi ini, pilah pilih pakaian dan makanan. Sang fotografer ternyata tidak menyia-yiakan waktu, mencoba mengabadikan momen di kota Kembang ini. Saya? Saya lebih memilih berbelanja makanan dan mengisi perut lagi dengan pisang bakar, hhee.





18.00 WIB

Tiba di hotel setelah sebelumnya berpamitan dengan Mas Radit dan Wadih serta menjemput Mas Nanang sepulang kontrol toko (weekend masih kerja, salut!!). Berbincang sejenak dan melaksanakan ibadah. Sempat membahas untuk makan malam, terbesit ke Angkringan Dago, deal!! Hhhaaa. Judulnya, balik ke hotel hanya untuk ibadah dan mandi 'doang'.

Tak berselang lama, angkat sauh dari hotel pun dilakukan. Sembari menikmati perjalanan ke TKP, berbincang dengan Mbah di buritan mobil, tidak jauh seputar dunia Audit (alamak!!) dan berbagi pengalaman dengan Mbah. Matur suwun wejangane Mbah.

Tiba dilokasi, pesan kopi jahe dan ketan bakar. Jangan samakan angkringan ini dengan yang ada di bumi Mataram ya, sangat bertolak belakang, 360 derajat. Mungkin angkringan saat ini sudah lebih moderen dan maju ketimbang angkringan yang biasanya.

Berselang 1,5 jam makan dan ngobrol, saatnya kembali ke hotel. Dampak hujan disore hari membuat ruangan hotel kurang bersahabat, dingin yang membuat kantung kemih tidak bisa berkompromi. Nonton tv, 'ngeganjel perut', ngerokok dan ngobrol menjadi penghangat suasana menjelang tidur. Tak lama, zzzzzz.

20 Okt 2013, 07.30 WIB

Kesekian kalinya bangun setelah sebelumnya ibadah Subuh. Saatnya mengisi perut, maklum semalam hanya terisi ketan bakar, hhee. Inisiatif Widhi untuk berenang pun menjadi kegiatan setelah makan. Tak lama berselang setelah sarapan, saatnya berenang. Terbayarkan oleh pemandangan 'indah' (hhee, rahasia manula) setelah mondar mandir antara tempat renang dan resepsionis hotel.

Back to hotel untuk mandi dan packing barang bawaan, sudah saatnya check out. Berpisah dengan rekan-rekan yang lain, karena kami memilih pulang via Lembang - Sadang - Purwakarta. Saatnya berpetualang ala 'manula'. Namun sebelumnya mampir sebentar ke Kartika Sari.

13.00 WIB

Tak terasa sudah tiba di kota Lembang, setelah melalui jalur pemanasan yang berkelok. Ibadah Dzuhur dilakukan berjamaah, setelah itu menyantap batagor, hheee. Kemudian melanjutkan perjalanan ditemani dengan pohon pinus dan kebun teh yang membuat mata ini segar, bosan karena hiruk pikuk Ibu Kota.





Berjumpa dengan jalur 'ngepas' 2 mobil malah membuat saya semakin bersemangat, aksi 'tempel bokong', 'intimidasi lawan', 'kode sein' hingga 'intip intip' ala bis AKAP seringkali dilakukan. Kondisi karpet hitam cukup mendukung walaupun terkadang terdapat luka yang menganga. Tak terasa 1,5 jam sudah berlalu, melewati jalur berkelok hingga bertemu kota Sadang dan akhirnya kami sepakat untuk berhenti di salah satu wisata kuliner di Purwakarta.

Sate MARANGGI CIBUNGUR. Ini menjadi salah satu tujuan awal ketika kami memilih jalur Lembang - Sadang - Purwakarta. Recommended untuk tujuan kuliner rekan-rekan, lokasi tidak jauh exit tol Cikampek, harga sangat terjangkau, rasa juara tapi jangan harap tidak antri dan sesak bila sedang weekend. Mari makan.






Perut sudah terisi, saatnya melakukan kewajiban Ashar. Setelah itu perjalanan dilanjut menuju tol Cikampek. Alhamdulillah, perjalanan 'manula' tidak ada kendala hingga Depok, berpisah dengan Widhi setelah ibadah Magrib.

Bertemu dengan rekan ShareCom, menikmati pemandangan Jawa Barat (sebagian kecil) hingga mencicipi kuliner tiap kota membuat diri ini semakin jatuh cinta akan Indonesia (cie elah..). Sujud syukur dan terima kasih ku ucapkan kepada Allah SWT, atas segalanya yang telah diberikan.

Kepada 'Manula': Prepare for next trip ya, hhaaa.

Selasa, 19 November 2013

Bermesraan Dengan Putih

07.00 WIB

Terbangun dari tidur akibat suara deru mesin dan knalpot, padahal mata ini baru saja terpejam 2 jam setelah melakukan perjalanan kurang lebih 12 jam, pertarungan sengit Bekasi - Salatiga. Rasanya masih ingin bergerumul dengan alas tidur matras dalam tenda TNI ini. Udara dingin semakin menusuk, jaket beserta rompi masih belum bisa membendung, akhirnya saya putuskan untuk beranjak keluar dari tenda.

Sembari menyadarkan mata dan badan ini, segelas kopi segera dijamah bersama rekan-rekan, sekedar menghangatkan diri dan bercanda. "Kenapa dingin ini masih saja menghampiri, disana matahari sudah menampakan diri" gumam ku. Ketika aku menoleh ke arah barat, terpampanglah jawabannya. Ternyata kami semua berada di kaki Gunung Merbabu. Pantas saja 'ademe ora umum'. 

Panasnya kopi dan gorengan tidak mampu bertahan lama, kabut masih saja tidak beranjak, bahkan ketika berucap saja hampir sama seperti 'merokok'. Beberapa rekan memilih memanaskan tunggangannya, ada pula yang memilih kembali ke tenda. Perbincangan pun kami sudahi, saatnya bergerak menuju sekretariat VOCS Salatiga. 

09.15 WIB

Hanya membutuhkan perjalanan 10 menit sudah tiba dilokasi. Ternyata beberapa rekan sudah ada yang mendahului kami, cukup ramai bahkan. Kopi, gorengan dan rokok selalu setia menemani, canda dan tawa menghiasi pagi ini. Ternyata banyak wajah baru di dunia Vario ini, dampak istirahat 1,5 tahun tidak bisa dipungkiri. Sekedar menyapa dan memperkenalkan diri, karena pada saat saya tiba di lokasi KopDarGab banyak yang istirahat.

Cukup ramai untuk acara sekelas lokal ini, dihadiri oleh seluruh member VJAY (Vario JaTeng dan Yogyakarta) dan belum termasuk diluar dari VJAY (VACTA Tangerang, VOC Tangerang, VIKSI Bekasi, VARICK Karawang, BAVAS Banjar dan HVRC Bandung), dengan estimasi 100 s.d 120 motor vario yang hadir.

Teringat akan janji dengan salah satu rekan asal Magelang, MAVIA. Janji untuk mampir kediamannya sepulang dari event ini. Baiklah, buka perbincangan dengan rekan-rekan yang lain namun diputuskan harus berpisah di kota kecil ini. Prepare muatan pun dilakukan bersamaan dengan yang lain.

10.30 WIB

Engine on menuju Magelang. Pemberhentian pertama pada 'hotel Pertamina', saatnya melakukan pengisian bahan bakar setelah itu berpamitan karena harus memisahkan diri ditengah perjalanan. Bermesraan dengan putih pun dimulai, berpisah disalah satu persimpangan, rekan-rekan menuju Semarang, saya belok menuju Magelang via Kopeng.

Jalur yang saya lalui merupakan jalur alternatif menuju Magelang, menyusuri lereng Gunung Merbabu namun nampak pula Gunung Merapi. Jalur menanjak atau menurun, tikungan 'u turn' dan bahkan lebar jalan yang 'ngepas' 2 mobil membuat adrenalin semakin terasa. Sesekali melakukan 'cornering' hingga knee protector ini bercumbu dengan aspal, hhee. Memacu hingga 80 KM/H pun masih mampu untuk melibas trek sempit nan berkelok ini.

Ditampilkannya hamparan hutan hingga gunung yang mencuat ke langit. Ditemani oleh putih buluk nan semok (maklum full box, hhe..), "Inilah saatnya aku bermesraan dengan mu putih" ucapku. Kondisi aspal yang mumpuni, jarang terluka, putih yang siap digenjot RPM tinggi dan pemandangan yang superrr serta hawa dingin yang menyegarkan membuat sempurna suasana.



Membuat lelah atau kantuk akibat perjalanan semalam hilang seketika. Matahari sudah hampir berada tepat diatas namun hawa dingin ini masih saja menyelimuti. Rasanya tidak ingin berlalu dengan cepat jika melintas jalan ini. Kurang lebih 40 menit melintas dijalan ini hingga akhirnya bertemu persimpangan dekat Terminal Magelang, menyalakan sein kiri pertanda akan melakukan manuver (manuver jidat luu, hhaa..).



11.50 WIB

Akhirnya tiba di kota Magelang, tiba pula disalah satu kediaman MAVIA Magelang, Didit. Berbincang dan bercanda sejenak tak lupa melaksanakan ritual siang hari (makan, hhee..). Namun apa daya, mata ini rasanya ingin menutup sejenak, (maaf ya Dit, abis makan ngantuk nih, hhaa..) zzzzzz.

Terbangun dari nyenyaknya tidur, melihat jam ternyata sudah menunjukan pukul 16.50 WIB, saatnya membersihkan diri. Tak lama setelah mandi dan mengganti pakaian tiba rekan dari DJAVOE Jogjakarta, Nouva. Melepas rasa kangen dengan berbincang dan bersenda gurau, sedikit bernostalgia antara kami bertiga, sudah lama rasanya tidak bertemu.

18.40 WIB

Waktu berjalan begitu cepat, segera ku lakukan persiapan terakhir, membereskan barang-barang bawaan serta menggunakan safety gear pertanda sudah saatnya ku meninggalkan kota Magelang. Berpamitan dengan Didit dan Nouva, semoga dapat bertemu dilain kesempatan. Engine on menuju Tangerang.

Kemesraan ku dengan putih berlanjut lagi, kali ini saya memilih jalur Temanggung - Weleri. Melakukan pengisian bahan bakar sebelum masuk kota Temanggung. Aspal halus, minim penerangan dan frekuensi pengguna jalan sedikit membuat dapur pacu digeber total, tak tanggung-tanggung 110 KM/H bisa tersentuh oleh si putiih buluk nan semok ini.

Tak terasa kota Temanggung sudah terlewati, saatnya bertarung dengan gelapnya perbuktian Weleri. Sangat minim penerangan, pemukiman warga pun sangat jarang, aspal tambal sulam dan jalan berkelok serta naik turun membuat kemesraan ini menjadi berwarna. Ternyata putih masih mampu memberikan kenyamanan dalam berkendara berkat peredaman dan aselerasi yang pas. Entah berapa banyak lubang yang saya 'hantam'. Cukup banyak 'u turn' yang dilalui. Namun sayang, kondisi karpet hitam tidak mumpuni.

40 menit saya berjibaku di Weleri, akhirnya bertemu dengan Pantura. Aksi geber mesin pun dilakukan dan tempel bokong bis AKAP menjadi santapan malam ini. Hingga pada akhirnya bertemu rekan-rekan asal AVP Pekalongan menjelang tanjakan Alas Roban. Menyelaraskan barisan hingga menjadi 1 menjadi atraksi pembuka, tak lupa 'kode kaki' menjadi tumpuan menghindari lubang dan aspal tidak rata.

Akhirnya menepi kan kendaraan untuk mampir di SPBU sebelum masuk kota Batang. Terlihat PO Haryanto sedang mengalami trouble, sedikit menyapa 'klakson' dan disapa balik oleh crew. Berbincang dengan rekan AVP setelah mengisi bahan bakar dan mengajak saya untuk sejenak mampir menikmati Pekalongan dimalam hari, why not??

21.00 WIB

Tiba di alun-alun kota Pekalongan, sejenak meluruskan kaki dan meregangkan otot. Ditawarkannya makanan khas Pekalongan 'Nasi Megono' oleh rekan-rekan. Satu bungkus nasi megono beserta lauk pauk yang tersedia ku lahap sembari berbincang-bincang. Teh manis hangat menjadi pilihan untuk melancarkan tenggorokan ini.

"Mas, nek arek VACTA ning dalan ora iso alon opo yo? Ket biyen bareng arek VACTA mesti banter-banter.." ucap salah satu member AVP, "Jarene rak banter rak silir? Iki ketemu tim GPRS lho" balas ku. "Opo kui GPRS?", "Gas poll rem sitik, hhhaaa..", "Hahahahahahaha.."

Suasana malam di kota ini tidak bisa ku nikmati lebih lama, saatnya melanjutkan perjalanan pulang, berpamitan dan mengucapkan terima kasih atas suguhannya. Semoga lain waktu bisa stay di kota Pekalongan. "Oke putih, jangan sampai kemesraan kita terlupakan".

Sepanjang jalan didominasi oleh bis AKAP dan truk-truk, mobil pribadi sangat minim. Kondisi aspal cukup mumpuni, tali gas tidak mengendur sama sekali, sein terus dimainkan sebagai tanda pindah jalur atau berbelok dan lampu hi/lo menjadi isyarat ketika overtake.

01.00 WIB

Tiba di kota udang, Cirebon. Setelah sebelumnya sempat mampir di Brebes untuk membeli telor asin, hhee. Tak terasa sudah melewati Jawa Tengah, hingga menjelang terminal Cirebon 'diportal' oleh salah satu rekan asal kota udang ini, bukan Vario melainkan Revo (brotherhood without limit). Diajaknya untuk sejenak mampir sekedar ngopi dan berbincang-bincang.

Makan, ngopi, bercanda menjadi menu ditengah malam ini bersama dulur-dulur Revo Cirebon dan LEGASUS Cirebon. Bahkan portal kedua ini memakan waktu yang lama, sempat aksi 'culik' hampir terjadi, namun setelah dijelaskan kenapa saya tidak bisa menuruti, akhirnya mereka melepaskan saya juga, hhee (maaf lur, next time saya balik lagi..)

Kurang lebih 2 jam saya tertahan di Cirebon. Saatnya mengganti waktu yang terbuang, harus bisa masuk Bekasi dan Jakarta pagi hari. Tak peduli lagi dengan angka yang terpampang pada spedometer, yang saya lakukan hanyalah tidak mengendorkan tali gas, sesekali melakukan pengereman. Pada akhirnya mata ini sudah mulai lelah, segera ku pilih 'hotel Pertamina' untuk beristirahat sejenak dan melakukan kewajiban Subuh, karena langit sudah mulai membiru.

Lebih segar dari sebelumnya, dan perjalanan pun saya lanjutkan kembali. Purwakarta - Cikampek - Karawang - Cikarang cukup padat dengan hadirnya para pekerja, hingga akhirnya mata ini tidak dapat bekerja sama lagi. Ku parkirkan pada salah satu minimarket sebelum masuk Bekasi Timur.

07.00 WIB

Begitulah jarum jam yang ditunjukan oleh arlojiku. Sebotol minuman asam dan air putih menjadi 'doping'. "Ayo putih, perjalanan kita sedikit lagi" gumamku. Meter demi meter ku lalui bersama si putih buluk. Lalu lintas kali ini lebih lancar dari yang ku perkirakan. 1,5 jam akhirnya ku tiba di rumah, Tangerang. Hawa sejuk langsung terasa di perumahan ini.

Alhamdulillah saya diberi kesempatan menikmati Indonesia melalui perjalanan darat. Putih tidak 'rewel' selama perjalanan bahkan dia selalu minta di'genjot' dengan RPM tinggi. Kemesraan ratusan kilometer yang tiada duanya. Perjalanan masih belum berakhir, masih banyak list yang belum kita lakukan, semoga masih ada kesempatan itu. Aamiin.