Senin, 23 Februari 2015

Last Ride with You

Awalnya agak berat jika kita harus melepas sesuatu yang kita sayangi, dilema bahkan perasaan ini sedang berperang antara ego vs. logika. Ada perasaan tidak tega ketika BULUKS bertemu dengan calon pemilik barunya, kadang hati ini terenyuh melihat benda yang ku sayang, yang ku rawat & bahkan menjadi saksi bisu pasang surut hidupku selama hampir 6 tahun. Salah satu benda hasil jerih payahku mencari rupiah harus dipertemukan dengan calon pemilik baru yang masih belum tahu bagaimana dia merawat BULUKS.

Hampir 6 tahun sudah aku bersamamu nak, Menemaniku sepanjang jalan raya, panas terik matahari bahkan hujan badai sudah kita lalui bersama. Kamu tidak pernah menyusahkan aku dalam perjalanan kemana pun kita pergi. Ribuan kilometer sudah kita lalui bersama & sudah berkeliling sebagian negeri tercinta Indonesia, Palembang - Lampung - Jawa - Bali - Lombok. Ya memang masih ada impian kita bersama yang belum tercapai, Sape Bima.

Maafkan aku jika kita harus berpisah. Tapi kenangan bersamamu tidak akan berpisah & akan selalu teringat bahkan menjadi ceritaku dimasa yang akan datang. Dan aku ada permintaan terakhir bersamamu sebelum kita berpisah. One Last Ride with You, yap Last Ride with You, just two of us, just ride. Bandung - Surabaya.

Semalam & beberapa waktu yang lalu kamu masih bisa mampu buktikan speed & power yang kamu punya, aku tidak pernah ragu & tidak pernah kecewa dengan apa yang kamu miliki. Bandung - Solo masih mampu melibas high speed, Bandung - Tangerang masih mampu cornering. Semoga kita punya waktu untuk Last Ride ini, untuk
buktikan kualitas yang kita miliki.


"lindungi aku dari segala bahaya, sama halnya aku melindungimu dari segala kerusakan"
- doaku ketika kita akan riding bersama -

Rabu, 04 Desember 2013

'Sang Gajah' Masih Mampu 'Berlari'

Sebuah pembuktian PO (Perusahaan Otobus) yang sudah berumur 44 tahun. Pembuktian bahwa masih mampu eksis diantara PO-PO muda yang konon katanya 'flying low'. Hingga para penumpang pun banyak yang beralih dan persaingan pun semakin membabi buta. Tak heran ada beberapa PO yang menutup dan menjual trayeknya lantaran sudah tidak ada 'profit' di trayek tersebut akibat kalah persaingan (no offense).

PO SAFARI DHARMA RAYA, lahir pada tahun 1969 di Temanggung dengan nama sebelumnya PO OBL (inisial sang pemilik, Oei Bie Lay). Berawal rute pendek, Magelang - Ngadirejo dan saat ini sudah merambah hingga Bima. Sebuah pencapaian yang tidak mudah, apalagi harus mempertahankan posisi di 'liga bis' ini. Namun langkah-langkah yang dilakukan sungguh sangat menakjubkan, ditengah persaingan ketat ini, 'sang gajah' masih mampu 'berlari', menepis segala keterpurukan yang menimpa.

Etape ke 1

Cerita ketika 1,5 tahun yang lalu, saat dimana saya masih dinas diluar kota, (Yogyakarta, Semarang, Solo dan Surabaya). Hendak melakukan perjalanan pulang ke Tangerang dari Surabaya dengan 'kotak panjang', sekedar menghibur diri karena menyukai 'karpet hitam'. Menghubungi beberapa agen bis di Terminal Bungurasih, Sidoarjo hingga minta referensi Kakak yang kebetulan menjadi member disalah satu komunitas bis.

PO PAHALA KENCANA menjadi referensi Kakak jika naik dari Terminal Bungurasih atau PO HARYANTO Madura tapi harus ke Terminal Bunder, Gresik dulu. Perjalanan naik patas bisa 2-3 jam jika ke Terminal Bunder, sedangkan posisi saya sudah perjalanan ke Terminal Bungurasih. Ternyata tidak berjodoh dengan PK, sold out. Melirik PO KRAMAT DJATI dan PO LORENA, namun ternyata salah satu crew darat menawarkan tiket Jakarta, Pak Anto begitu beliau memperkenalkan diri.

'Goyang' harga tiket sekedar mengharapkan bisa mendapatkan yang lebih murah dari yang lain, ternyata deal juga (thanks ya pak, hhee). Tiket saya tebus dengan harga 180rb, lebih murah 20rb dari seharusnya. Mengecek jam keberangkatan dan kode plat bis yang akan aku tumpangi, untuk jam belum bisa diprediksi, mengingat bis dari Malang ini masih 'stuck' di Porong, Sidoarjo, sedangkan kode plat yang tertera adalah B 7168 IZ.

PK 'nano-nano' Jet Bus, KD New Travego tiba lebih dahulu kemudian disusul oleh LORENA Marcopolo, hingga para punggawa Malang - Jakarta berlalu bis yang dimaksud belum tiba. Seingatku ketika jarum jam di arlojiku menunjukan pukul 16.00 WIB tibalah 'sang gajah'. Pak Anto tidak meninggalkan saya dan penumpang yang lain, beliau bertanggung jawab atas pertanyaan-pertanyaan para penumpang, kenapa bis belum tiba, begitu sabar menanggapinya hingga dia berkata "Itu bisnya!".

Perlahan menaiki kabin si 'kotak panjang'. Bermesin Hino RK8 260, livery New Travego 'Custom' Morodadi Prima. Sempat terkejut ketika memasuki kabin, tidak seperti kabin bis lainnya, full furnish kayu dan semi high deck. Beruntung saya dapat 'hot seat' 1A, bersebelahan dengan member 'JakBus', begitulah yang tertera di jaketnya.

Hino RK8 260? Baru kali ini saya merasakan 'japanese', biasanya langganan 'deutsch' ketika dari Jogjakarta ke Semarang untuk dinas atau sesekali 'skandinavia' saat hendak pulang ke Tangerang dari Semarang. Sempat 'under estimate' tapi ketika saya ber-BBM ria dengan Kakak, ada pencerahan tentang 'speed' yang dimiliki oleh RK8 260. We will see.

Yes, terbukti. 130 Km/H tersentuh ketika tol Surabaya - Gresik, pembawaan driver yang smooth ditambah suspensi leaf spring 'custom' milik Mercedes Benz (menurut penjelasan rekan-rekan pencinta bis). Sungguh sangat berbeda dengan 'frame' saya mengenai 'japanese', perfect. Driver pinggir, muda, stylist, tidak 'ngoyo' tapi tetap high speed, smooth pada saat pergantian gigi dengan nama Arief.

Atraksinya pun sungguh patut diacungi 2 jempol hingga 'sang gajah' mampu mendahului beberapa bis yang sudah 'angkat sauh' lebih awal di Terminal Bungurasih. Hingga pada akhirnya harus berhenti untuk makan malam.




Berganti driver, kali ini perawakan agak gemuk dan sudah didominasi uban di kepala, Mudjiono. Dari hasil baca grup, beliau biasa di panggil 'Mbah' (estimasi umur sih bisa dibilang 40an). Terbesit pertanyaan dalam hati, "kok driver tengahnya sudah tua? kenapa bukan yang muda seperti Mas Arief?".

Namun don't judge from the cover, 'jam terbang' membuktikan Mbah mampu memberikan atraksi yang tidak kalah menariknya dengan Mas Arief, 'deg deg ser' jantung ini menyaksikan kepiawaian sang driver tengah dalam overtake atau 'tempel bokong' dan disempurnakan dengan kehalusan pindah gigi dan kenyamanan leaf spring. Hingga mata ini terhipnotis dan lebih memilih tarik selimut. Sesekali mata ini terjaga dan melihat atraksi Mbah Mudjiono dan Mas Arief.

15,5 jam perjalanan ala Mas Arief dan Mbah Mudjiono sama sekali jauh dari rasa lelah dan pegal, sangat nyaman. Surabaya - Jakarta (Kebayoran Lama) bagi saya ini sebuah record, hingga akhirnya meninggalkan kabin B 7168 IZ ini sembari mengucapkan terima kasih kepada crew. Ini rekomendasi untuk rekan-rekan lain yang ingin menikmati perjalanan Jakarta - Surabaya - Malang, bis nyaman, crew ramah dan estimasi waktu tiba yang hebat.

Etape 2

Setelah tiba di Kebayoran Lama, saya coba peruntungan untuk membeli tiket pulang ke Surabaya esok hari, mengharapkan ada atraksi yang ditampilkan oleh 'sang gajah' lain. 200rb saya tebus (ga bisa 'goyang', hhaa..). Terlihat B 7168 IZ meninggalkan Kantor Perwakilan untuk menuju garasi di Permata Hijau. Hari berikutnya, diantarkannya oleh kedua orang tua saya setelah sebelumnya mampir dirumah Kakak dan tak lupa menceritakan 'sang gajah'.


Jodoh memang tak lari kemana, B 7168 IZ menjadi tungganganku lagi. Senyum Mas Arief terlihat dari kokpit, tak lama naiklah saya ke kabin, dengan ramah menyapa
"ketemu lagi mas, hhee..",
"iya nih, abis perpal tho?" sahut ku,
"iya mas, dapet perpal. asli Surabaya atau gimana?",
"iya mas asli Surabaya, tapi saya disana cuma kerja kok, orang tua di sini (Serpong)",
"okelah, yuk duduk sini aja mas (sembari menunjuk bangku sang asst. driver)".
Woow!! Exclusive (kata rekan-rekan pecinta bis, apalagi bukan kita yang minta tapi sang creew yang menunjuk), rejeki nomplok tidak mungkin disia-siakan.

Berjalan santai selepas Kantor Perwakilan Kebayoran Lama, sembari menuju 'hotel Pertamina'. Ratusan liter solar pun ditelan oleh RK8 ini. Jalan beriringan dengan Executive Denpasar namun terpisah ketika menjelang gerbang tol Pejompongan. 'Ngalor ngidul' perbincangan antara saya dan Mas Arief. Tak terasa ternyata sudah 3 jam berbincang hingga akhirnya 'sang gajah' harus menepi untuk makan malam yang notabenenya matahari saja belum menghilang bahkan masih memancarkan panas.

Perut sudah terisi, rokok sudah menjelang hisapan terakhir, dan sang punggawa driver tengah pun sudah mulai memasuki kabin untuk mengambil alih singgasana, 'frreeeemmm..'. Klakson dibunyikan, pertanda penumpang diharapkan segera naik. Dan rezeki ku pun tak kemana, masih diminta untuk tetap di bangku CD oleh Mas Arief sembari mengenalkan saya ke Mbah Mudji dan Mas Ed (Co Driver). Seat 2B yang kumiliki seperti tak berguna, hhaa.

Kali ini dapat 'lampu hijau' oleh Mbah Mudji,
"nek arep ngerokok, monggo lho mas, jendelane di buka wae.."
"njih Mbah, enggko wae, mau wis rokokan"
Mas Arief tidak merokok, jadi tadi saya cukup segan untuk meminta izin, sedangkan fasilitas Smoking Room tidak tersedia. Sempat diceritakan bahwa bis ini pernah perpal 2 minggu dikarenakan sempat 'cium bokong' oleh PO lain, kerusakan tidak parah, tidak menyentuh dapur pacu dan tidak berdampak pada sasis, namun luka menganga cukup besar.

Bertahun-tahun beliau menjadi supir bis, sudah banyak PO yang pernah disinggahi. Jam terbang sangat menentukan kelihaian driver, mengemudi sembari ngobrol dan merokok sedangkan speed di odometer terlihat menyentuh 100 Km/H namun Mbah masih saja santai. Cara overtake patut diacungi jempol, sangat halus tidak 'ngoyo' namun pasti dan penuh perhitungan. Langit sudah menjadi gelap, tak terasa perbincangan yang cukup lama. Hingga akhirnya saya putuskan untuk ke seat 2B, sekedar memejamkan mata.

Sesekali mata ini terbangun, sekilas menyaksikan kepiwaian sang driver. Dan sempat dikagetkan pada saat lepas kota Pati, mata ini menyaksikan cara 'pergantian pemain' yang cepat dan menegangkan. Bis masih melaju kencang, di netralkan persneling, Mbah berdiri dan Mas Arief menyusup dari belakang dan langsung memegang kendali (what the f**k?). Duet maut ini sungguh patut diacungi jempol, 4 jempol sekaligus. Tak lama Mbah menuju ruang tidur di buritan.

Melihat cara Mas Arief 'tempel bokong' PK Travego, bersamaan melibas KD Marcopolo, tak dilepaskannya pedal gas hingga akhirnya PK dipaksa untuk mengalah. Iring-iringan 'jawara timur' era 90'an pun tidak terelakan, Mas Arief bertugas membuka jalan, memberikan kode sein tidak ada henti-hentinya. Salut, sungguh sopan driver satu ini, tahu dan sangat mengerti apa yang harus dilakukan.

Akhirnya bendera putih saya kibarkan, tak kuasa mata ini untuk tetap terjaga. Hingga Mas Ed membangunkan saya dengan informasinya "yang Surabaya,,yang Surabaya..", matahari saja masih enggan bersinar, wait! enggan bersinar? Jam masih menunjukan 04.20 WIB, WTF! "This bus with unlimited speed!" Tak lama tibalah di Kantor Perwakilan di Arjuna. Turun dari kabin sembari 'guyon' dengan crew dan memilih sarapan dulu. Nasi kuning beserta lauk pauk dan teh hangat menjadi rekan yang menemani saya dan crew B 7168 IZ. Ucapan terima kasih ku ucapkan kepada crew atas pelayanan dan keramah tamahnya, salut untuk crew B 7168 IZ beserta Manajemen PO SAFARI DHARMA RAYA.

Berlalu sudah perjalanan ku dengan 'sang gajah' berbarengan dengan kepergian B 7168 IZ meninggalkan Kantor Perwakilan untuk menuju Malang. Sampai berjumpa lagi B 7168 IZ, semoga kita berjodoh lagi. "Fffrrrreeeemmmm.."

Etape ke 3

Kali ini merupakan perjalan pulang dari Jogjakarta menuju Jakarta (Jogjakarta, 26 September 2013), perjalanan setelah menikmati kota Gudeg selama 4 hari bersama Nyonya. 520rb untuk kelas Super Executive pun saya tebus, sekaligus pelampiasan dendam 1,5 tahun.

Sudah tiba di Terminal Jombor pada jam 14.00 WIB, langsung menuju ke agen untuk konfirmasi setelah turun dari taksi dan membawa barang bawaan. Terlihat Executive Travego yang sepertinya perpal. 'Berseliweran' PO SINAR JAYA, PO PUTERA REMAJA, PO MUSTIKA (Patas), PO LAJU PRIMA, PO NUSANTARA (Patas) dan PO RAMAYANA. Semakin jelas, persaingan dunia per-bis-an sudah ketat dan penumpang pun semakin selektif.

Diawali kedatangan Executive Denpasar dan Patas Non AC 'Titan' 'sang gajah' mulai menunjukkan taring eksistensinya, kondisi bis masih mulus terawat dan tak lama sang pujaan hati pun tiba, AA 1616 FN dengan tagline 'Super Executive' di atas logo Mercedes Benz 1526 OH ini. Bodi mulus hasil karoseri Adi Putro Malang yang sepertinya baru beberapa hari keluar dari 'operasi'. JetBus HD (Hi-Deck) menjadi pilihan untuk memanjakan penumpang agar mudah melihat pemandangan dan atraksi yang disajikan.

Mengistirahatkan sejenak 'sang gajah' untuk lapor ke Kantor Agen, bersebelahan dengan Executive yang perpal, tak lama PO LAJU PRIMA pun ikut merapat.


Rasa penasaran dicampur dengan deg-degan ketika kaki menapaki lantai kabin AA 1616 FN, wangi kabin begitu menyengat. "Masih gresss.." gumamku. Yup livery Adi Putro JetBus HD ini sepertinya baru beberapa minggu keluar dari 'operasi'nya di Malang. Perjalanan pun dimulai ketika jam menunjukan pukul 14.30 WIB.

'Sang gajah' belum menunjukan atraksinya, hanya berjalan santai sepanjang menuju Magelang, bertemu 'pinguin' PO PUTERA REMAJA, sesekali melakukan 'pdkt' namun terpisahkan menjelang persimpangan Magelang. Tak lama over take oleh PO RAMAYANA dari sebelah kiri dan berjalan beriringan menuju Terminal Magelang.

Selepas Terminal Magelang, 'sang gajah' menuju Temanggung, Kantor Pusat. Perjalanan masih santai, minim atraksi yang dipertunjukan oleh driver pinggir. Tiba di Temanggung, terlihat beberapa 'gajah' sedang kontrol dan menaikan penumpang, 30 menit berlalu untuk melakukan hal tersebut. Saatnya 'bejeg gas' menuju Weleri.



Driver pinggir cukup lihai melewati jalan sempit dan berkelok ini, bahkan sempat over take PO SANTOSO Business Class. 2 jam waktu yg ditempuh untuk melalui halang rintang Weleri hingga tiba di Batang, tak lama harus melakukan pemberhentian untuk makan malam.


Pergantian pemain dengan driver tengah pun dilakukan. Suratman, nama yang tertera dikemeja kerja beliau. Perawakan cukup berumur dan sempat pesimis. Namun hal tersebut tidak terbukti, 'tua-tua keladi', hampir sama seperti Mbah Mudjiono, PO NUSANTARA Signature Class dan PO HARYANTO Premiere Class menjadi bulan-bulanan oleh driver tengah. Beberapa PO pun selalu dilibas, tidak ada perlawanan sengit dan tidak butuh waktu lama.

Hingga akhirnya mata ini terlelap oleh buaian Aldila seat walaupun sempat terganggu oleh suara suspensi, mungkin inilah yang menjadi penyakit 1526 OH, suspensi agak keras dan berisik. Konfigurasi seat 1-2 yang lega dan busa yang nyaman makin menggoda mata. Zzzzzzzz.

Tak terasa sudah menjelang exit tol MPR/DPR untuk menuju Kantor Perwakilan Kebayoran Lama. Terbuai dengan nyamannya kabin, suara suspensi pun kalah, musik slow rock yang diputar semenjak pemberhentian makan malam tak hentinya berkumandang. Sempat mata ini terjaga melihat atraksi Pak Suratman 'ngeblong' untuk menghindari 'parkir gratis'.

Beribu terima kasih ku ucapkan kepada Allah SWT, karena masih diberi kesempatan menikmati 'sang gajah', dan tak lupa terima kasih ku kepada crew AA 1616 FN, sampai jumpa dilain kesempatan.

'Sang gajah' masih mampu 'berlari', pembuktian PO yang sudah berumur 44 tahun, masih mampu memberikan perlawanan kepada PO-PO 'banter', masih memiliki sopan santun dan etika di jalan raya. Semoga 'sang gajah' masih tetap jaya seperti sediakala. Salam 'te lo let'.

NB: tiap PO memiliki karakter yang berbeda, jika rekan-rekan berminat, monggo. Dan saya siap menerima bantuan untuk rekan-rekan yang mau melakukan perjalanan dengan bis.

Selasa, 26 November 2013

Tiga 'Manula' Main Ke Bandung

Berawal dari kesepakatan forum ShareCom, forum yang mengayomi ex Audit atau Departemen lain untuk tetap berkomunikasi, sharing bahkan 'ngumpul bareng' dan tidak jauh dari arisan bahwa akan ada pertemuan berikutnya pada tanggal 18 s.d 20 Oktober 2013 di Cipaku, Bandung. Janji temu dengan para 'manula' (manusia lupa usia, hhee), termasuk saya bahwa kita akan berangkat Jum'at malam untuk take off ke Bandung.

19 Okt 2013, 01.30 WIB

Jeng..jeng..jengggg..Take off pun dilakukan dari Depok, Bismillah. Pemberhentian terakhir adalah rumah Widhi, jejaka 27 tahun dengan hobi travelling dan gowes (promosi, hhaa..). Berangkat dini hari bukan menjadi option, maklum sebelumnya saya dan Puji ada pertandingan futsal dan harus mengantar Nyonya masing-masing ke rumahnya.

Menyusuri Jl Juanda menuju tol Depok - Jagorawi agar lebih dekat dan cepat ketimbang harus mengarah ke Lenteng Agung. Bahkan cukup dekat, hanya membutuhkan waktu 10 menit sudah berada di gerbang tol. Tidak ada atraksi malam ini, hanya menikmati perjalanan malam. Jangan harap ada bis malam yang masih 'goyang kiri kanan', mayoritas truk gandeng, kontainer dan ekspedisi.

Selang beberapa menit setelah tol Jagorawi - JORR - Cikunir, saatnya melakukan pengisian bahan bakar di rest area, sekaligus belanja keperluan 'manula' ini dan tak lupa mengosongkan air dalam tubuh. Pertarungan menuju tol Cipularang pun dimulai, dimulai dengan curhatan para 'manula' ini, hhhaa. Curhat dari masalah A hingga Z yang membuat mata tetap terjaga, bahkan senda gurau pun tidak bisa lepas.

Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, tol didominasi oleh truk-truk yang mengarah ke timur, lajur kanan yang saya ambil selepas SPBU rest area pun sedikit tersendat dikarenakan truk mencoba overtake. Lepas dari antrian lajur kanan, 1300cc ini pun saya 'panteng' di 100 KM/H, "kecepatan santai saja lah" ucap dalam hati.

Kenapa 'manula' (manusia lupa usia)? Sebenarnya ini hanya istilah dari saya saja, bukan maksud mencontek dari kartunis Mice, hheee (piss bro!!). Sein kiri pun dinyalakan, pertanda saatnya mengarah ke tol Cipularang. Cukup banyak kendaraan yang 'loyo' pada saat menanjak, tidak hanya truk, mobil pun terjebak akan tanjakan itu. Bahkan yang lebih ekstrim adalah ketika truk melakukan overtake, alamak antriannya.

03.10 WIB

Tak terasa ternyata sudah keluar dari pertarungan tol, sekian puluh ribu ditebus untuk bisa keluar dari tol ini. Berselang beberapa meter dari gerbang tol terpaksa harus menepikan 1300cc, kandung kemih sudah tidak dapat menahan tampungan air (maap bro, pipis dulu). Oke, lanjut mengarah ke The Cipaku Garden Hotel via Jl Sukajadi - Setiabudi. Sepinya Bandung jika jam menunjukan waktu Subuh, cerita horor pun menjadi bahan pembicaraan.

Lirik kanan lirik kiri sembari mencari petunjuk dimana letak hotel yang kami huni nantinya, 'kebablasan' hampir menuju Lembang, putar balik. Ternyata jalan yang dimaksud tidak jauh dari kampus UPI. Tak lama akhirnya tiba di hotel yang dimaksud. Sekilas terlihat seperti cottage, jauh dari persepsi hotel dengan gedung bertingkat. Butuh waktu lama untuk menghubungi rekan-rekan yang sudah tiba siang hari tadi. 20 menit kemudian terbukalah pintu kamar yang dituju.

Berselang 10 menit dari adzan Subuh, akhirnya bisa masuk kamar untuk menghangatkan diri, maklum diluar dinginnya sedikit 'ngawur' setelah diguyur hujan ditambah waktu menunjukkan belum saatnya matahari bersinar, bahkan jauh dari waktu untuk bersinar. Kewajiban Subuh selesai dilakukan, berbincang sedikit dan menonton tv sejenak, akhirnya mata ini lebih memilih terpejam, zzzzzz.

07.00 WIB

Kurang lebih itu adalah waktu yang saya ingat ketika mata ini mulai terbuka, menyadarkan diri sembari menyapa rekan-rekan yang sudah tiba lebih dahulu. Saatnya mengisi perut, ternyata keren juga hotelnya, pengunjung tidak begitu banyak padahal ini weekend. 'Comot' sana sini makanan yang tersaji dan memilih tempat duduk berdekatan dengan yang lain. Menyantap sarapan sembari berbincang dengan sesepuh, BS (hhee..).

Membersihkan badan setelah sarapan, setelah itu dilanjut dengan pembagian doorprice. Alhamdulillah, rezeki anak kost tidak akan kemana-mana, doorprice paling besar, 190rb bisa dikantongi, hhhaaa. Tak lama, dari hasil diskusi sebelumnya, kita semua akan meluncur untuk makan siang bersamaan dengan berpisahnya Mas Radit dan Istri serta Wadih, dikarenakan ada acara esok harinya.



11.30 WIB

Saatnya berburu kuliner, sudah menjelang jam makan siang. Kali ini atas info Widhi, kami akan menuju Lisung, Jl Dago Pakar. Jika sudah weekend jangan harap perjalanan lancar jaya, hampir sama seperti Jakarta saat ini, weekdays atau weekend selalu macet, tidak ada yang membedakan. Selamat bermacet ria, hheee.

40 menit perjalanan akhirnya tiba juga ditempat tujuan. Sebelumnya sudah pernah kesini tapi itu ditahun 2009 bersama Panda (Yuyut), lama juga tidak main ke Bandung, ternyata sudah 4 tahun. Pesan makan dan minum dan tak lama sang juru foto bermain dengan kameranya. Obrolan dengan rekan-rekan pun tetap berlanjut.












Tak lama berselang, santapan siang pun tiba. Tempat yang menenangkan, jauh dari kebisingan, udara yang cukup bersih, harga yang masih terjangkau dan bangunan yang unik. Untuk pemandangan sangat disayangkan, sudah banyak bangunan baru berdiri.

14.00 WIB

Saatnya beranjak dari Lisung untuk menuju Jl Riau.Mencari buah tangan sekaligus menjadi tempat perpisahan dengan Mas Radit dan Wadih. Bandung sudah banyak berubah, semakin padat dan agak didominasi oleh plat B pada saat weekend. Perjalanan tidak lebih 20 Km pun harus dibayar dengan waktu hampir 1 jam.

Tiba disalah satu factory outlet, saatnya mengatraksikan mobil Mas Nanang untuk berbelanja. Hampir 1,5 jam berlalu dilokasi ini, pilah pilih pakaian dan makanan. Sang fotografer ternyata tidak menyia-yiakan waktu, mencoba mengabadikan momen di kota Kembang ini. Saya? Saya lebih memilih berbelanja makanan dan mengisi perut lagi dengan pisang bakar, hhee.





18.00 WIB

Tiba di hotel setelah sebelumnya berpamitan dengan Mas Radit dan Wadih serta menjemput Mas Nanang sepulang kontrol toko (weekend masih kerja, salut!!). Berbincang sejenak dan melaksanakan ibadah. Sempat membahas untuk makan malam, terbesit ke Angkringan Dago, deal!! Hhhaaa. Judulnya, balik ke hotel hanya untuk ibadah dan mandi 'doang'.

Tak berselang lama, angkat sauh dari hotel pun dilakukan. Sembari menikmati perjalanan ke TKP, berbincang dengan Mbah di buritan mobil, tidak jauh seputar dunia Audit (alamak!!) dan berbagi pengalaman dengan Mbah. Matur suwun wejangane Mbah.

Tiba dilokasi, pesan kopi jahe dan ketan bakar. Jangan samakan angkringan ini dengan yang ada di bumi Mataram ya, sangat bertolak belakang, 360 derajat. Mungkin angkringan saat ini sudah lebih moderen dan maju ketimbang angkringan yang biasanya.

Berselang 1,5 jam makan dan ngobrol, saatnya kembali ke hotel. Dampak hujan disore hari membuat ruangan hotel kurang bersahabat, dingin yang membuat kantung kemih tidak bisa berkompromi. Nonton tv, 'ngeganjel perut', ngerokok dan ngobrol menjadi penghangat suasana menjelang tidur. Tak lama, zzzzzz.

20 Okt 2013, 07.30 WIB

Kesekian kalinya bangun setelah sebelumnya ibadah Subuh. Saatnya mengisi perut, maklum semalam hanya terisi ketan bakar, hhee. Inisiatif Widhi untuk berenang pun menjadi kegiatan setelah makan. Tak lama berselang setelah sarapan, saatnya berenang. Terbayarkan oleh pemandangan 'indah' (hhee, rahasia manula) setelah mondar mandir antara tempat renang dan resepsionis hotel.

Back to hotel untuk mandi dan packing barang bawaan, sudah saatnya check out. Berpisah dengan rekan-rekan yang lain, karena kami memilih pulang via Lembang - Sadang - Purwakarta. Saatnya berpetualang ala 'manula'. Namun sebelumnya mampir sebentar ke Kartika Sari.

13.00 WIB

Tak terasa sudah tiba di kota Lembang, setelah melalui jalur pemanasan yang berkelok. Ibadah Dzuhur dilakukan berjamaah, setelah itu menyantap batagor, hheee. Kemudian melanjutkan perjalanan ditemani dengan pohon pinus dan kebun teh yang membuat mata ini segar, bosan karena hiruk pikuk Ibu Kota.





Berjumpa dengan jalur 'ngepas' 2 mobil malah membuat saya semakin bersemangat, aksi 'tempel bokong', 'intimidasi lawan', 'kode sein' hingga 'intip intip' ala bis AKAP seringkali dilakukan. Kondisi karpet hitam cukup mendukung walaupun terkadang terdapat luka yang menganga. Tak terasa 1,5 jam sudah berlalu, melewati jalur berkelok hingga bertemu kota Sadang dan akhirnya kami sepakat untuk berhenti di salah satu wisata kuliner di Purwakarta.

Sate MARANGGI CIBUNGUR. Ini menjadi salah satu tujuan awal ketika kami memilih jalur Lembang - Sadang - Purwakarta. Recommended untuk tujuan kuliner rekan-rekan, lokasi tidak jauh exit tol Cikampek, harga sangat terjangkau, rasa juara tapi jangan harap tidak antri dan sesak bila sedang weekend. Mari makan.






Perut sudah terisi, saatnya melakukan kewajiban Ashar. Setelah itu perjalanan dilanjut menuju tol Cikampek. Alhamdulillah, perjalanan 'manula' tidak ada kendala hingga Depok, berpisah dengan Widhi setelah ibadah Magrib.

Bertemu dengan rekan ShareCom, menikmati pemandangan Jawa Barat (sebagian kecil) hingga mencicipi kuliner tiap kota membuat diri ini semakin jatuh cinta akan Indonesia (cie elah..). Sujud syukur dan terima kasih ku ucapkan kepada Allah SWT, atas segalanya yang telah diberikan.

Kepada 'Manula': Prepare for next trip ya, hhaaa.

Selasa, 19 November 2013

Bermesraan Dengan Putih

07.00 WIB

Terbangun dari tidur akibat suara deru mesin dan knalpot, padahal mata ini baru saja terpejam 2 jam setelah melakukan perjalanan kurang lebih 12 jam, pertarungan sengit Bekasi - Salatiga. Rasanya masih ingin bergerumul dengan alas tidur matras dalam tenda TNI ini. Udara dingin semakin menusuk, jaket beserta rompi masih belum bisa membendung, akhirnya saya putuskan untuk beranjak keluar dari tenda.

Sembari menyadarkan mata dan badan ini, segelas kopi segera dijamah bersama rekan-rekan, sekedar menghangatkan diri dan bercanda. "Kenapa dingin ini masih saja menghampiri, disana matahari sudah menampakan diri" gumam ku. Ketika aku menoleh ke arah barat, terpampanglah jawabannya. Ternyata kami semua berada di kaki Gunung Merbabu. Pantas saja 'ademe ora umum'. 

Panasnya kopi dan gorengan tidak mampu bertahan lama, kabut masih saja tidak beranjak, bahkan ketika berucap saja hampir sama seperti 'merokok'. Beberapa rekan memilih memanaskan tunggangannya, ada pula yang memilih kembali ke tenda. Perbincangan pun kami sudahi, saatnya bergerak menuju sekretariat VOCS Salatiga. 

09.15 WIB

Hanya membutuhkan perjalanan 10 menit sudah tiba dilokasi. Ternyata beberapa rekan sudah ada yang mendahului kami, cukup ramai bahkan. Kopi, gorengan dan rokok selalu setia menemani, canda dan tawa menghiasi pagi ini. Ternyata banyak wajah baru di dunia Vario ini, dampak istirahat 1,5 tahun tidak bisa dipungkiri. Sekedar menyapa dan memperkenalkan diri, karena pada saat saya tiba di lokasi KopDarGab banyak yang istirahat.

Cukup ramai untuk acara sekelas lokal ini, dihadiri oleh seluruh member VJAY (Vario JaTeng dan Yogyakarta) dan belum termasuk diluar dari VJAY (VACTA Tangerang, VOC Tangerang, VIKSI Bekasi, VARICK Karawang, BAVAS Banjar dan HVRC Bandung), dengan estimasi 100 s.d 120 motor vario yang hadir.

Teringat akan janji dengan salah satu rekan asal Magelang, MAVIA. Janji untuk mampir kediamannya sepulang dari event ini. Baiklah, buka perbincangan dengan rekan-rekan yang lain namun diputuskan harus berpisah di kota kecil ini. Prepare muatan pun dilakukan bersamaan dengan yang lain.

10.30 WIB

Engine on menuju Magelang. Pemberhentian pertama pada 'hotel Pertamina', saatnya melakukan pengisian bahan bakar setelah itu berpamitan karena harus memisahkan diri ditengah perjalanan. Bermesraan dengan putih pun dimulai, berpisah disalah satu persimpangan, rekan-rekan menuju Semarang, saya belok menuju Magelang via Kopeng.

Jalur yang saya lalui merupakan jalur alternatif menuju Magelang, menyusuri lereng Gunung Merbabu namun nampak pula Gunung Merapi. Jalur menanjak atau menurun, tikungan 'u turn' dan bahkan lebar jalan yang 'ngepas' 2 mobil membuat adrenalin semakin terasa. Sesekali melakukan 'cornering' hingga knee protector ini bercumbu dengan aspal, hhee. Memacu hingga 80 KM/H pun masih mampu untuk melibas trek sempit nan berkelok ini.

Ditampilkannya hamparan hutan hingga gunung yang mencuat ke langit. Ditemani oleh putih buluk nan semok (maklum full box, hhe..), "Inilah saatnya aku bermesraan dengan mu putih" ucapku. Kondisi aspal yang mumpuni, jarang terluka, putih yang siap digenjot RPM tinggi dan pemandangan yang superrr serta hawa dingin yang menyegarkan membuat sempurna suasana.



Membuat lelah atau kantuk akibat perjalanan semalam hilang seketika. Matahari sudah hampir berada tepat diatas namun hawa dingin ini masih saja menyelimuti. Rasanya tidak ingin berlalu dengan cepat jika melintas jalan ini. Kurang lebih 40 menit melintas dijalan ini hingga akhirnya bertemu persimpangan dekat Terminal Magelang, menyalakan sein kiri pertanda akan melakukan manuver (manuver jidat luu, hhaa..).



11.50 WIB

Akhirnya tiba di kota Magelang, tiba pula disalah satu kediaman MAVIA Magelang, Didit. Berbincang dan bercanda sejenak tak lupa melaksanakan ritual siang hari (makan, hhee..). Namun apa daya, mata ini rasanya ingin menutup sejenak, (maaf ya Dit, abis makan ngantuk nih, hhaa..) zzzzzz.

Terbangun dari nyenyaknya tidur, melihat jam ternyata sudah menunjukan pukul 16.50 WIB, saatnya membersihkan diri. Tak lama setelah mandi dan mengganti pakaian tiba rekan dari DJAVOE Jogjakarta, Nouva. Melepas rasa kangen dengan berbincang dan bersenda gurau, sedikit bernostalgia antara kami bertiga, sudah lama rasanya tidak bertemu.

18.40 WIB

Waktu berjalan begitu cepat, segera ku lakukan persiapan terakhir, membereskan barang-barang bawaan serta menggunakan safety gear pertanda sudah saatnya ku meninggalkan kota Magelang. Berpamitan dengan Didit dan Nouva, semoga dapat bertemu dilain kesempatan. Engine on menuju Tangerang.

Kemesraan ku dengan putih berlanjut lagi, kali ini saya memilih jalur Temanggung - Weleri. Melakukan pengisian bahan bakar sebelum masuk kota Temanggung. Aspal halus, minim penerangan dan frekuensi pengguna jalan sedikit membuat dapur pacu digeber total, tak tanggung-tanggung 110 KM/H bisa tersentuh oleh si putiih buluk nan semok ini.

Tak terasa kota Temanggung sudah terlewati, saatnya bertarung dengan gelapnya perbuktian Weleri. Sangat minim penerangan, pemukiman warga pun sangat jarang, aspal tambal sulam dan jalan berkelok serta naik turun membuat kemesraan ini menjadi berwarna. Ternyata putih masih mampu memberikan kenyamanan dalam berkendara berkat peredaman dan aselerasi yang pas. Entah berapa banyak lubang yang saya 'hantam'. Cukup banyak 'u turn' yang dilalui. Namun sayang, kondisi karpet hitam tidak mumpuni.

40 menit saya berjibaku di Weleri, akhirnya bertemu dengan Pantura. Aksi geber mesin pun dilakukan dan tempel bokong bis AKAP menjadi santapan malam ini. Hingga pada akhirnya bertemu rekan-rekan asal AVP Pekalongan menjelang tanjakan Alas Roban. Menyelaraskan barisan hingga menjadi 1 menjadi atraksi pembuka, tak lupa 'kode kaki' menjadi tumpuan menghindari lubang dan aspal tidak rata.

Akhirnya menepi kan kendaraan untuk mampir di SPBU sebelum masuk kota Batang. Terlihat PO Haryanto sedang mengalami trouble, sedikit menyapa 'klakson' dan disapa balik oleh crew. Berbincang dengan rekan AVP setelah mengisi bahan bakar dan mengajak saya untuk sejenak mampir menikmati Pekalongan dimalam hari, why not??

21.00 WIB

Tiba di alun-alun kota Pekalongan, sejenak meluruskan kaki dan meregangkan otot. Ditawarkannya makanan khas Pekalongan 'Nasi Megono' oleh rekan-rekan. Satu bungkus nasi megono beserta lauk pauk yang tersedia ku lahap sembari berbincang-bincang. Teh manis hangat menjadi pilihan untuk melancarkan tenggorokan ini.

"Mas, nek arek VACTA ning dalan ora iso alon opo yo? Ket biyen bareng arek VACTA mesti banter-banter.." ucap salah satu member AVP, "Jarene rak banter rak silir? Iki ketemu tim GPRS lho" balas ku. "Opo kui GPRS?", "Gas poll rem sitik, hhhaaa..", "Hahahahahahaha.."

Suasana malam di kota ini tidak bisa ku nikmati lebih lama, saatnya melanjutkan perjalanan pulang, berpamitan dan mengucapkan terima kasih atas suguhannya. Semoga lain waktu bisa stay di kota Pekalongan. "Oke putih, jangan sampai kemesraan kita terlupakan".

Sepanjang jalan didominasi oleh bis AKAP dan truk-truk, mobil pribadi sangat minim. Kondisi aspal cukup mumpuni, tali gas tidak mengendur sama sekali, sein terus dimainkan sebagai tanda pindah jalur atau berbelok dan lampu hi/lo menjadi isyarat ketika overtake.

01.00 WIB

Tiba di kota udang, Cirebon. Setelah sebelumnya sempat mampir di Brebes untuk membeli telor asin, hhee. Tak terasa sudah melewati Jawa Tengah, hingga menjelang terminal Cirebon 'diportal' oleh salah satu rekan asal kota udang ini, bukan Vario melainkan Revo (brotherhood without limit). Diajaknya untuk sejenak mampir sekedar ngopi dan berbincang-bincang.

Makan, ngopi, bercanda menjadi menu ditengah malam ini bersama dulur-dulur Revo Cirebon dan LEGASUS Cirebon. Bahkan portal kedua ini memakan waktu yang lama, sempat aksi 'culik' hampir terjadi, namun setelah dijelaskan kenapa saya tidak bisa menuruti, akhirnya mereka melepaskan saya juga, hhee (maaf lur, next time saya balik lagi..)

Kurang lebih 2 jam saya tertahan di Cirebon. Saatnya mengganti waktu yang terbuang, harus bisa masuk Bekasi dan Jakarta pagi hari. Tak peduli lagi dengan angka yang terpampang pada spedometer, yang saya lakukan hanyalah tidak mengendorkan tali gas, sesekali melakukan pengereman. Pada akhirnya mata ini sudah mulai lelah, segera ku pilih 'hotel Pertamina' untuk beristirahat sejenak dan melakukan kewajiban Subuh, karena langit sudah mulai membiru.

Lebih segar dari sebelumnya, dan perjalanan pun saya lanjutkan kembali. Purwakarta - Cikampek - Karawang - Cikarang cukup padat dengan hadirnya para pekerja, hingga akhirnya mata ini tidak dapat bekerja sama lagi. Ku parkirkan pada salah satu minimarket sebelum masuk Bekasi Timur.

07.00 WIB

Begitulah jarum jam yang ditunjukan oleh arlojiku. Sebotol minuman asam dan air putih menjadi 'doping'. "Ayo putih, perjalanan kita sedikit lagi" gumamku. Meter demi meter ku lalui bersama si putih buluk. Lalu lintas kali ini lebih lancar dari yang ku perkirakan. 1,5 jam akhirnya ku tiba di rumah, Tangerang. Hawa sejuk langsung terasa di perumahan ini.

Alhamdulillah saya diberi kesempatan menikmati Indonesia melalui perjalanan darat. Putih tidak 'rewel' selama perjalanan bahkan dia selalu minta di'genjot' dengan RPM tinggi. Kemesraan ratusan kilometer yang tiada duanya. Perjalanan masih belum berakhir, masih banyak list yang belum kita lakukan, semoga masih ada kesempatan itu. Aamiin.

Rabu, 16 Oktober 2013

Akhirnya kembali ke karpet hitam

Hhhmmm, cukup lama rasanya tidak meng-karpet hitam-kan diri, mungkin sudah sekitar 1,5 tahun. Diinfokan oleh rekan seperjuangan yang sudah lama mondar mandir diperhelatan otomotif, bahwasannya akan ada acara KopDar (Kopi Darat) bareng untuk wilayah JaTeng dan DIY di Salatiga. Pilihan ku hanya 1, BERANGKAT.

Full safety gear sudah ku persiapkan serta tak lupa perlengkapan pribadi yang akan menjadi sarana kebersihan diri. Terdengar Adzan Ashar dikediaman sang belahan jiwa (Bekasi), menandakan sudah saatnya aku harus melakukan kewajiban. Berselang 10 menit, ku persiapkan diri untuk berpamitan dan merpihkan segala perlengkapanku. Berpamitan dengan belahan jiwa dan Bismillah, cuussss.

Janji temu dengan salah satu dulur dari VIKSI (Vario Bekasi) di 'hotel pertamina' dekat terminal Bekasi.

15.55 WIB

Engine on setelah bertemu dan berbincang sejenak dengan dulurku ini. Hanya kami berdua yang tersisa, yang lain sudah melakukan perjalanan sejak jam 11.00 WIB, so dapat disimpulkan kami adalah tim penyapu.

Etape ini aku yang menjadi guide, tapi hanya 2 motor apakah perlu guide? hhee. Baiklah perjalanan pun dimulai. Tidak ada perlawanan atau pun agresif selama etape awal ini, cukup sesak dan ramai karpet hitam ini, sering kali kaki ini harus merelakan turun dari pijakan. Tiba by pass Cikarang baru bisa memacu engine hingga 80kph tapi tidak bisa bertahan lama, jam sibuk berakhirnya aplusan pabrik pun tiba, lagi-lagi harus merelakan kaki ini berpijak.

Dan tiba-tiba, awan sudah tidak bersahabat dan tidak dapat menahan tampungan air. Saatnya menepikan kendaraan, menggunakan perlengkapan hujan, tak perlu waktu lama hingga akhirnya kami pun bisa kembali meng-aspal.

18.20 WIB

Akhirnya bisa melewati rintangan Bekasi - Karawang - Cikarang, pom bensin menjadi tujuan utama, sudah saatnya 110cc ini mengisi bahan bakar di daerah Cikampek. Saatnya menyiksa roda dua ini, dan benar adanya, matic 110cc dengan atribut full box ini masih mampu membesut hingga 100kph, membungkam kedigdayaan bis bis malam yang mengarah ke Timur. Rekan duet pun masih menempel ketat. Jalan berjerawat atau bahkan akibat cacar pun dilibas tanpa ampun, sudah tidak memperdulikan hal itu.

Tibalah di Losarang, time to eat, lapar boo. Tak lupa mengisi bahan bakar si 110cc juga. Sempat menyaksikan pertandingan Indonesia vs. Korea Selatan. Entah tepat atau tidak jika perut ini hanya diisikan dengan mie instan cup, tapi memang tidak ada niat atau nafsu untuk melahap nasi beserta rekan-rekannya.

Sempat membaca beberapa pesan BBM dari rekan-rekan yang sudah berangkat lebih awal, dan saya pun membalas pesan-pesan itu. Perut sudah terisi, air pun sudah ditenggak, kaki hingga punggung pun sudah direnggangkan, saatnya kembali bertarung.

20.30 WIB

Engine on lagi menuju kota udang. Banyak bis, truk dan mobil pribadi yang menuju Timur, karena ini menjelang Idul Adha, tak heran lah. Selepas kota udang tiba tiba perjalanan harus diberhentikan secara paksa oleh salah satu dulur dari kota udang ini. "Ian, dibelakang, berhenti dulu!!" sahutnya, "Bukannya Ian ga brangkat??" balasku. Akhirnya kami pun menepikan kendaraan. Tak lama yang bersangkutan pun tiba dengan tawa seraya meledek.

Silahturahmi seadanya dengan dulur dulur Cirebonan ini sejenak dan tak lama, kami pun memacu si 110cc ini dengan tambahan 1 motor dan 2 orang. Gas pollll.

Tertahan by pas Pekalongan, hingga harus merelakan kaki ini berpijak dengan pasir bahu jalan. Goyang kanan dan kiri untuk mencari celah agar roda 2 ini bisa terus melaju. Tak tahan hingga memaksa 'hazard' dan klakson bekerja agar diberikan sedikit ruang bagi kami ini. 

23.05 WIB

Batang, touch down. Traffic sudah tidak bersahabat, truk gandeng, trailer, bus akap hingga kendaraan pribadi sedang menunjukkan ego dan kedigdayaan masing-masing. Mengisi bahan bakar, meregangkan otot kaki hingga merebahkan punggung ini dengan beralaskan beton tapi rasanya cukup nikmat. "Kok sama lu enak banget ya Can, ga cape, ga pegel dan mata masih tetep melek" terlempar kalimat itu dari Ian (VIKSI). "Ha? Masa sih? Emang biasanya lu gmn?" sahutku. "Beda banget cara bawa rombongannya" balasnya, "Ah, perasaan lu aja kali". Akhirnya perbincangan ringan itu disimpulkan oleh rekan ku, bahwa pembawaan ku berkendara memang nyaman dan membuat badan tetap fit. Cara berkendaraku ketika menuju luar kota memang berbeda, setiap 2 s.d 3 jam perjalanan diharuskan istirahat 15 s.d 20 menit, sekedar minum dan meregangkan otot. Semoga bermanfaat cara berkendara ku ini.

Ok, lanjut lagi. Kendal - Semarang didepan mata.

01.40 WIB

Tidak kerasa waktu begitu cepat berlalu, hingga akhirnya kita sepakat untuk beristirahat sejenak di SPBU Pertamina, dekat dengan Banyumanik Semarang. Membakar rokok, mengeluarkan cairan yang sudah tidak dapat tertampung lagi dan merebahkan badan rasanya sangat nikmat.

Oke, lanjut perjalanan lagi. Kurang lebih 1,5 jam lagi tiba di Salatiga. Medan yang dihadapi kali ini tidak se-extreme Cirebon - Kendal, tambal sulam, gelombang atau bahkan lubang yg menganga, yang dilalui cukup mulus bahkan bisa memacu hingga maksimal.

Salatiga - Solo, kiri. Magelang - Yogyakarta, kanan. Kurang lebih seperti itu informasi yang diberikan oleh papan penunjuk arah. Tak lama kemudian terlihatlah pemisah jalan tersebut, nyalakan sein kiri dan pacu kembali si 110cc ini.

02.50 WIB

Dingin mulai melanda sekujur badan ketika tiba di kota kecil Salatiga, berhenti sejenak utk menghubungi dulur dulur Salatiga, tak lama tiba juga yang dimaksud. Baiklah, engine on kembali menuju acara.

Tiba dilokasi, hawa dingin makin menusuk. Tapi masih saja ada dulur dulur yang saling berbincang atau bahkan 'angkat botol', hheee. Waktunya melakukan kewajiban Subuh, after that, time to sleep, zzzz...........

-Tamat-

Putih Buluk 110cc

Senin, 23 April 2012

Narsis dikit :p

Manasin mesin dengan Ryo Keboo (first time for Keboo), congrat broo.

Pengawalan pernikahan Dhona VACTA (Vario Club Tangerang), selamat menempuh hidup baru ya lur.

Padalarang, dalam perjalanan pulang dengan HVCL (Honda Vario Club Lampung) acara PVJB, Cimahi.