Sebuah pembuktian PO (Perusahaan Otobus) yang sudah berumur 44 tahun. Pembuktian bahwa masih mampu eksis diantara PO-PO muda yang konon katanya 'flying low'. Hingga para penumpang pun banyak yang beralih dan persaingan pun semakin membabi buta. Tak heran ada beberapa PO yang menutup dan menjual trayeknya lantaran sudah tidak ada 'profit' di trayek tersebut akibat kalah persaingan (no offense).
PO SAFARI DHARMA RAYA, lahir pada tahun 1969 di Temanggung dengan nama sebelumnya PO OBL (inisial sang pemilik, Oei Bie Lay). Berawal rute pendek, Magelang - Ngadirejo dan saat ini sudah merambah hingga Bima. Sebuah pencapaian yang tidak mudah, apalagi harus mempertahankan posisi di 'liga bis' ini. Namun langkah-langkah yang dilakukan sungguh sangat menakjubkan, ditengah persaingan ketat ini, 'sang gajah' masih mampu 'berlari', menepis segala keterpurukan yang menimpa.
Cerita ketika 1,5 tahun yang lalu, saat dimana saya masih dinas diluar kota, (Yogyakarta, Semarang, Solo dan Surabaya). Hendak melakukan perjalanan pulang ke Tangerang dari Surabaya dengan 'kotak panjang', sekedar menghibur diri karena menyukai 'karpet hitam'. Menghubungi beberapa agen bis di Terminal Bungurasih, Sidoarjo hingga minta referensi Kakak yang kebetulan menjadi member disalah satu komunitas bis.
PO PAHALA KENCANA menjadi referensi Kakak jika naik dari Terminal Bungurasih atau PO HARYANTO Madura tapi harus ke Terminal Bunder, Gresik dulu. Perjalanan naik patas bisa 2-3 jam jika ke Terminal Bunder, sedangkan posisi saya sudah perjalanan ke Terminal Bungurasih. Ternyata tidak berjodoh dengan PK, sold out. Melirik PO KRAMAT DJATI dan PO LORENA, namun ternyata salah satu crew darat menawarkan tiket Jakarta, Pak Anto begitu beliau memperkenalkan diri.
'Goyang' harga tiket sekedar mengharapkan bisa mendapatkan yang lebih murah dari yang lain, ternyata deal juga (thanks ya pak, hhee). Tiket saya tebus dengan harga 180rb, lebih murah 20rb dari seharusnya. Mengecek jam keberangkatan dan kode plat bis yang akan aku tumpangi, untuk jam belum bisa diprediksi, mengingat bis dari Malang ini masih 'stuck' di Porong, Sidoarjo, sedangkan kode plat yang tertera adalah B 7168 IZ.
PK 'nano-nano' Jet Bus, KD New Travego tiba lebih dahulu kemudian disusul oleh LORENA Marcopolo, hingga para punggawa Malang - Jakarta berlalu bis yang dimaksud belum tiba. Seingatku ketika jarum jam di arlojiku menunjukan pukul 16.00 WIB tibalah 'sang gajah'. Pak Anto tidak meninggalkan saya dan penumpang yang lain, beliau bertanggung jawab atas pertanyaan-pertanyaan para penumpang, kenapa bis belum tiba, begitu sabar menanggapinya hingga dia berkata "Itu bisnya!".
Berganti driver, kali ini perawakan agak gemuk dan sudah didominasi uban di kepala, Mudjiono. Dari hasil baca grup, beliau biasa di panggil 'Mbah' (estimasi umur sih bisa dibilang 40an). Terbesit pertanyaan dalam hati, "kok driver tengahnya sudah tua? kenapa bukan yang muda seperti Mas Arief?".
Namun don't judge from the cover, 'jam terbang' membuktikan Mbah mampu memberikan atraksi yang tidak kalah menariknya dengan Mas Arief, 'deg deg ser' jantung ini menyaksikan kepiawaian sang driver tengah dalam overtake atau 'tempel bokong' dan disempurnakan dengan kehalusan pindah gigi dan kenyamanan leaf spring. Hingga mata ini terhipnotis dan lebih memilih tarik selimut. Sesekali mata ini terjaga dan melihat atraksi Mbah Mudjiono dan Mas Arief.
15,5 jam perjalanan ala Mas Arief dan Mbah Mudjiono sama sekali jauh dari rasa lelah dan pegal, sangat nyaman. Surabaya - Jakarta (Kebayoran Lama) bagi saya ini sebuah record, hingga akhirnya meninggalkan kabin B 7168 IZ ini sembari mengucapkan terima kasih kepada crew. Ini rekomendasi untuk rekan-rekan lain yang ingin menikmati perjalanan Jakarta - Surabaya - Malang, bis nyaman, crew ramah dan estimasi waktu tiba yang hebat.
Etape 2
Setelah tiba di Kebayoran Lama, saya coba peruntungan untuk membeli tiket pulang ke Surabaya esok hari, mengharapkan ada atraksi yang ditampilkan oleh 'sang gajah' lain. 200rb saya tebus (ga bisa 'goyang', hhaa..). Terlihat B 7168 IZ meninggalkan Kantor Perwakilan untuk menuju garasi di Permata Hijau. Hari berikutnya, diantarkannya oleh kedua orang tua saya setelah sebelumnya mampir dirumah Kakak dan tak lupa menceritakan 'sang gajah'.
Jodoh memang tak lari kemana, B 7168 IZ menjadi tungganganku lagi. Senyum Mas Arief terlihat dari kokpit, tak lama naiklah saya ke kabin, dengan ramah menyapa
"ketemu lagi mas, hhee..",
"iya nih, abis perpal tho?" sahut ku,
"iya mas, dapet perpal. asli Surabaya atau gimana?",
"iya mas asli Surabaya, tapi saya disana cuma kerja kok, orang tua di sini (Serpong)",
"okelah, yuk duduk sini aja mas (sembari menunjuk bangku sang asst. driver)".
Woow!! Exclusive (kata rekan-rekan pecinta bis, apalagi bukan kita yang minta tapi sang creew yang menunjuk), rejeki nomplok tidak mungkin disia-siakan.
Berjalan santai selepas Kantor Perwakilan Kebayoran Lama, sembari menuju 'hotel Pertamina'. Ratusan liter solar pun ditelan oleh RK8 ini. Jalan beriringan dengan Executive Denpasar namun terpisah ketika menjelang gerbang tol Pejompongan. 'Ngalor ngidul' perbincangan antara saya dan Mas Arief. Tak terasa ternyata sudah 3 jam berbincang hingga akhirnya 'sang gajah' harus menepi untuk makan malam yang notabenenya matahari saja belum menghilang bahkan masih memancarkan panas.
Perut sudah terisi, rokok sudah menjelang hisapan terakhir, dan sang punggawa driver tengah pun sudah mulai memasuki kabin untuk mengambil alih singgasana, 'frreeeemmm..'. Klakson dibunyikan, pertanda penumpang diharapkan segera naik. Dan rezeki ku pun tak kemana, masih diminta untuk tetap di bangku CD oleh Mas Arief sembari mengenalkan saya ke Mbah Mudji dan Mas Ed (Co Driver). Seat 2B yang kumiliki seperti tak berguna, hhaa.
Kali ini dapat 'lampu hijau' oleh Mbah Mudji,
"nek arep ngerokok, monggo lho mas, jendelane di buka wae.."
"njih Mbah, enggko wae, mau wis rokokan"
Mas Arief tidak merokok, jadi tadi saya cukup segan untuk meminta izin, sedangkan fasilitas Smoking Room tidak tersedia. Sempat diceritakan bahwa bis ini pernah perpal 2 minggu dikarenakan sempat 'cium bokong' oleh PO lain, kerusakan tidak parah, tidak menyentuh dapur pacu dan tidak berdampak pada sasis, namun luka menganga cukup besar.
Bertahun-tahun beliau menjadi supir bis, sudah banyak PO yang pernah disinggahi. Jam terbang sangat menentukan kelihaian driver, mengemudi sembari ngobrol dan merokok sedangkan speed di odometer terlihat menyentuh 100 Km/H namun Mbah masih saja santai. Cara overtake patut diacungi jempol, sangat halus tidak 'ngoyo' namun pasti dan penuh perhitungan. Langit sudah menjadi gelap, tak terasa perbincangan yang cukup lama. Hingga akhirnya saya putuskan untuk ke seat 2B, sekedar memejamkan mata.
Sesekali mata ini terbangun, sekilas menyaksikan kepiwaian sang driver. Dan sempat dikagetkan pada saat lepas kota Pati, mata ini menyaksikan cara 'pergantian pemain' yang cepat dan menegangkan. Bis masih melaju kencang, di netralkan persneling, Mbah berdiri dan Mas Arief menyusup dari belakang dan langsung memegang kendali (what the f**k?). Duet maut ini sungguh patut diacungi jempol, 4 jempol sekaligus. Tak lama Mbah menuju ruang tidur di buritan.
Melihat cara Mas Arief 'tempel bokong' PK Travego, bersamaan melibas KD Marcopolo, tak dilepaskannya pedal gas hingga akhirnya PK dipaksa untuk mengalah. Iring-iringan 'jawara timur' era 90'an pun tidak terelakan, Mas Arief bertugas membuka jalan, memberikan kode sein tidak ada henti-hentinya. Salut, sungguh sopan driver satu ini, tahu dan sangat mengerti apa yang harus dilakukan.
Akhirnya bendera putih saya kibarkan, tak kuasa mata ini untuk tetap terjaga. Hingga Mas Ed membangunkan saya dengan informasinya "yang Surabaya,,yang Surabaya..", matahari saja masih enggan bersinar, wait! enggan bersinar? Jam masih menunjukan 04.20 WIB, WTF! "This bus with unlimited speed!" Tak lama tibalah di Kantor Perwakilan di Arjuna. Turun dari kabin sembari 'guyon' dengan crew dan memilih sarapan dulu. Nasi kuning beserta lauk pauk dan teh hangat menjadi rekan yang menemani saya dan crew B 7168 IZ. Ucapan terima kasih ku ucapkan kepada crew atas pelayanan dan keramah tamahnya, salut untuk crew B 7168 IZ beserta Manajemen PO SAFARI DHARMA RAYA.
Berlalu sudah perjalanan ku dengan 'sang gajah' berbarengan dengan kepergian B 7168 IZ meninggalkan Kantor Perwakilan untuk menuju Malang. Sampai berjumpa lagi B 7168 IZ, semoga kita berjodoh lagi. "Fffrrrreeeemmmm.."
Etape ke 3
Kali ini merupakan perjalan pulang dari Jogjakarta menuju Jakarta (Jogjakarta, 26 September 2013), perjalanan setelah menikmati kota Gudeg selama 4 hari bersama Nyonya. 520rb untuk kelas Super Executive pun saya tebus, sekaligus pelampiasan dendam 1,5 tahun.
Sudah tiba di Terminal Jombor pada jam 14.00 WIB, langsung menuju ke agen untuk konfirmasi setelah turun dari taksi dan membawa barang bawaan. Terlihat Executive Travego yang sepertinya perpal. 'Berseliweran' PO SINAR JAYA, PO PUTERA REMAJA, PO MUSTIKA (Patas), PO LAJU PRIMA, PO NUSANTARA (Patas) dan PO RAMAYANA. Semakin jelas, persaingan dunia per-bis-an sudah ketat dan penumpang pun semakin selektif.
Diawali kedatangan Executive Denpasar dan Patas Non AC 'Titan' 'sang gajah' mulai menunjukkan taring eksistensinya, kondisi bis masih mulus terawat dan tak lama sang pujaan hati pun tiba, AA 1616 FN dengan tagline 'Super Executive' di atas logo Mercedes Benz 1526 OH ini. Bodi mulus hasil karoseri Adi Putro Malang yang sepertinya baru beberapa hari keluar dari 'operasi'. JetBus HD (Hi-Deck) menjadi pilihan untuk memanjakan penumpang agar mudah melihat pemandangan dan atraksi yang disajikan.
Mengistirahatkan sejenak 'sang gajah' untuk lapor ke Kantor Agen, bersebelahan dengan Executive yang perpal, tak lama PO LAJU PRIMA pun ikut merapat.
Rasa penasaran dicampur dengan deg-degan ketika kaki menapaki lantai kabin AA 1616 FN, wangi kabin begitu menyengat. "Masih gresss.." gumamku. Yup livery Adi Putro JetBus HD ini sepertinya baru beberapa minggu keluar dari 'operasi'nya di Malang. Perjalanan pun dimulai ketika jam menunjukan pukul 14.30 WIB.
'Sang gajah' belum menunjukan atraksinya, hanya berjalan santai sepanjang menuju Magelang, bertemu 'pinguin' PO PUTERA REMAJA, sesekali melakukan 'pdkt' namun terpisahkan menjelang persimpangan Magelang. Tak lama over take oleh PO RAMAYANA dari sebelah kiri dan berjalan beriringan menuju Terminal Magelang.
Selepas Terminal Magelang, 'sang gajah' menuju Temanggung, Kantor Pusat. Perjalanan masih santai, minim atraksi yang dipertunjukan oleh driver pinggir. Tiba di Temanggung, terlihat beberapa 'gajah' sedang kontrol dan menaikan penumpang, 30 menit berlalu untuk melakukan hal tersebut. Saatnya 'bejeg gas' menuju Weleri.
Driver pinggir cukup lihai melewati jalan sempit dan berkelok ini, bahkan sempat over take PO SANTOSO Business Class. 2 jam waktu yg ditempuh untuk melalui halang rintang Weleri hingga tiba di Batang, tak lama harus melakukan pemberhentian untuk makan malam.
Pergantian pemain dengan driver tengah pun dilakukan. Suratman, nama yang tertera dikemeja kerja beliau. Perawakan cukup berumur dan sempat pesimis. Namun hal tersebut tidak terbukti, 'tua-tua keladi', hampir sama seperti Mbah Mudjiono, PO NUSANTARA Signature Class dan PO HARYANTO Premiere Class menjadi bulan-bulanan oleh driver tengah. Beberapa PO pun selalu dilibas, tidak ada perlawanan sengit dan tidak butuh waktu lama.
Hingga akhirnya mata ini terlelap oleh buaian Aldila seat walaupun sempat terganggu oleh suara suspensi, mungkin inilah yang menjadi penyakit 1526 OH, suspensi agak keras dan berisik. Konfigurasi seat 1-2 yang lega dan busa yang nyaman makin menggoda mata. Zzzzzzzz.
Tak terasa sudah menjelang exit tol MPR/DPR untuk menuju Kantor Perwakilan Kebayoran Lama. Terbuai dengan nyamannya kabin, suara suspensi pun kalah, musik slow rock yang diputar semenjak pemberhentian makan malam tak hentinya berkumandang. Sempat mata ini terjaga melihat atraksi Pak Suratman 'ngeblong' untuk menghindari 'parkir gratis'.
Beribu terima kasih ku ucapkan kepada Allah SWT, karena masih diberi kesempatan menikmati 'sang gajah', dan tak lupa terima kasih ku kepada crew AA 1616 FN, sampai jumpa dilain kesempatan.
'Sang gajah' masih mampu 'berlari', pembuktian PO yang sudah berumur 44 tahun, masih mampu memberikan perlawanan kepada PO-PO 'banter', masih memiliki sopan santun dan etika di jalan raya. Semoga 'sang gajah' masih tetap jaya seperti sediakala. Salam 'te lo let'.
NB: tiap PO memiliki karakter yang berbeda, jika rekan-rekan berminat, monggo. Dan saya siap menerima bantuan untuk rekan-rekan yang mau melakukan perjalanan dengan bis.